Taman Cendekia – Bulan Dzulhijjah selalu membawa suasana ibadah yang lebih mendalam. Banyak umat Islam berlomba memperbanyak amal saleh. Selain berzikir dan bersedekah, puasa sunnah menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Namun, sebagian orang masih bertanya tentang niat puasa qadha Ramadhan dan puasa Dzulhijjah sekaligus.
Pertanyaan itu muncul karena masih banyak umat Muslim memiliki utang puasa Ramadhan. Di sisi lain, mereka juga ingin meraih pahala besar puasa Dzulhijjah. Oleh sebab itu, memahami niat dan tata caranya menjadi hal penting.
Islam merupakan agama yang penuh kemudahan. Karena itu, para ulama menjelaskan hukum menggabungkan niat qadha dengan puasa sunnah. Selain sah untuk mengganti utang puasa, seorang Muslim juga tetap berharap memperoleh keutamaan amalan sunnah Dzulhijjah.
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki kedudukan istimewa. Rasulullah SAW bahkan menyebut amal saleh pada hari-hari tersebut sangat dicintai Allah SWT. Karena itu, puasa Dzulhijjah menjadi amalan yang penuh keutamaan.
Selain mendekatkan diri kepada Allah, puasa juga melatih keikhlasan dan kesabaran. Hati menjadi lebih lembut. Jiwa pun terasa lebih tenang. Bahkan, banyak ulama menganjurkan memperbanyak ibadah pada hari-hari mulia tersebut.
Sementara itu, bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadhan, kesempatan ini sangat berharga. Mereka dapat mengganti puasa sekaligus menghidupkan sunnah Dzulhijjah. Oleh karena itu, niat menjadi bagian penting agar ibadah berjalan sesuai syariat.
Berikut bacaan niat puasa qadha Ramadhan dan puasa Dzulhijjah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ ذِي الْحِجَّةِ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: “Saya berniat puasa esok hari untuk mengganti puasa wajib Ramadhan dan puasa sunnah Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”
Meskipun demikian, sebagian ulama lebih mengutamakan niat qadha sebagai niat utama. Adapun pahala sunnah Dzulhijjah diharapkan tetap mengalir karena dilakukan pada hari istimewa.
Dalam kajian fikih, terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai penggabungan niat ibadah. Namun, banyak ulama membolehkan penggabungan niat puasa wajib dengan puasa sunnah tertentu.
Karena itu, seorang Muslim tetap dapat menjalankan qadha Ramadhan pada awal Dzulhijjah. Bahkan, hal tersebut menjadi solusi bagi mereka yang belum sempat mengganti puasa sebelumnya.
Selain praktis, cara ini juga membantu menjaga semangat ibadah. Apalagi, momentum Dzulhijjah sering menghadirkan suasana spiritual yang lebih kuat. Hati menjadi mudah tersentuh. Ibadah pun terasa lebih ringan dijalankan.
Namun demikian, jika memiliki kemampuan waktu yang cukup, memisahkan puasa qadha dan puasa sunnah tetap lebih baik. Dengan begitu, seseorang dapat meraih pahala masing-masing secara sempurna.
Pada akhirnya, yang paling utama ialah keikhlasan hati. Jangan sampai ibadah hanya mengejar jumlah amal. Sebaliknya, hadirkan niat tulus untuk mendekat kepada Allah SWT.
Semoga puasa yang dijalankan menjadi jalan penghapus dosa. Selain itu, semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita pada bulan Dzulhijjah yang mulia ini.
Refenrnsi:





Tidak ada komentar