Amanat Pembina Upacara yang menyentuh untuk anak SMP. Tema: Menadari dan Menerima Proses, Bukan Hasil Instan.
Setiap sekolah memiliki tantangan yang berbeda. Namun, satu hal yang sama adalah kebutuhan siswa akan pesan yang menguatkan. Karena itu, amanat ini tidak berdiri sebagai pesan tunggal. Amanat ini justru menjadi bagian dari rangkaian tema yang saling melengkapi.
Contoh amanat yang di bahas dalam artikel ini merupakan salah satu tema yang di kembangkan dari pembahasan utama. Tema tersebut termasuk dalam artikel “6 Tema Amanat Pembina Upacara yang Menyentuh untuk Anak SMP” yang telah di publikasikan sebelumnya. Artikel tersebut memuat enam tema besar yang relevan dengan dunia remaja.
Setiap tema dalam artikel ini di rancang untuk menjawab kondisi emosional siswa SMP. Mulai dari rasa tidak percaya diri, ketakutan akan kegagalan, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Oleh sebab itu, contoh amanat ini merupakan pengembangan praktis dari salah satu tema tersebut.
Dengan memisahkan pembahasan per tema, pembina upacara dapat lebih fokus saat menyampaikan pesan. Selain itu, pesan yang disampaikan menjadi lebih mendalam dan mudah di pahami siswa. Pendekatan ini juga membantu guru memilih amanat sesuai kebutuhan sekolah.
Melalui struktur ini, pembaca dapat menelusuri topik secara bertahap. Dengan demikian, upacara bendera tidak hanya menjadi rutinitas. Amanat yang disampaikan pun berubah menjadi pesan yang membekas dan bermakna.
Contoh Amanat Pembina Upacara
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua.
Anak-anakku yang Bapak/Ibu banggakan,
Hari ini Bapak/Ibu tidak ingin menegur, tidak ingin menyalahkan, dan tidak ingin menghakimi siapa pun. Bapak/Ibu hanya ingin mengajak kalian berhenti sejenak dan jujur pada diri sendiri.
Jujur pada satu hal yang sering kalian rasakan, tapi jarang kalian ucapkan:
lelah, takut gagal, dan merasa tidak cukup baik ketika membandingkan diri dengan orang lain.Anak-anakku,
Di usia kalian, sangat wajar jika merasa seperti itu. Kalian melihat teman yang nilainya tinggi, yang terlihat percaya diri, yang selalu dipuji. Lalu tanpa sadar, kalian bertanya dalam hati,
“Kenapa aku tidak seperti dia?”
“Kenapa aku selalu tertinggal?”Perasaan itu bukan tanda kelemahan. Perasaan itu tanda bahwa kalian sedang bertumbuh. Namun, ada satu hal penting yang perlu kalian ingat:
Hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat, tetapi perjalanan siapa yang mau terus belajar.Anak-anakku,
Orang hebat itu bukan yang selalu benar, tetapi yang mau belajar saat salah.Orang hebat bukan yang tidak pernah jatuh, tetapi yang berani bangkit tanpa malu.
Kesalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kesalahan adalah bagian dari proses menjadi lebih baik.
Bapak/Ibu ingin kalian tahu satu hal penting:
Nilai rapor tidak menentukan nilai dirimu sebagai manusia. Kamu tetap berharga, bahkan ketika hasil usahamu belum seperti yang kamu harapkan.Yang paling penting bukan seberapa cepat kamu berhasil, tetapi seberapa jujur kamu berusaha.
Anak-anakku yang Bapak/Ibu sayangi,
Tidak apa-apa jika hari ini kamu belum bisa. Tidak apa-apa jika hari ini kamu masih belajar. Yang tidak apa-apa adalah berhenti mencoba. Selama kamu mau belajar, mau memperbaiki diri, dan mau melangkah sedikit demi sedikit, masa depanmu tetap terbuka luas.Jangan bandingkan prosesmu dengan hasil orang lain. Setiap orang punya waktu tumbuhnya masing-masing.
Percayalah, apa yang kamu perjuangkan hari ini, meski pelan dan sering jatuh, akan menjadi kekuatanmu di masa depan. Teruslah belajar, teruslah berusaha, dan jangan takut gagal. Karena dari kegagalan itulah, orang-orang hebat dilahirkan. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





Komentar