contoh amant pembina upacara tentang kejujuranContoh Amanat Pembina Upacara Tentang Kejujuran
Tema: Kejujuran, Cermin Kepribadian Hebat
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi, anak-anakku yang Bapak/Ibu cintai dan banggakan.
Pagi ini, udara begitu sejuk, angin berhembus pelan, dan matahari bersinar lembut di langit sekolah kita.
Semoga sinar pagi ini menjadi tanda bahwa semangat kita pun masih menyala—semangat untuk belajar, berbuat baik, dan terus memperbaiki diri.
Anak-anakku, hari ini Bapak ingin mengajak kalian merenungkan satu kata yang sangat sederhana, tapi amat berharga: kejujuran.
Kejujuran itu seperti cermin—ia memantulkan siapa kita sebenarnya.
Kalau cermin kita bersih, pantulannya jernih. Tapi kalau kita menutupi kotoran dengan senyum palsu, pantulan itu akan kabur.
Bapak ingin bercerita sedikit.
Suatu pagi, seorang siswa menemukan dompet di halaman sekolah. Ia membuka sedikit dan melihat ada uang di dalamnya. Tapi tanpa pikir panjang, ia langsung membawa dompet itu ke ruang guru dan menyerahkannya.
Tidak ada yang melihat, tidak ada yang memuji, tapi di hati kecilnya ia tahu—ia telah melakukan hal yang benar.
Beberapa hari kemudian, pemilik dompet datang dan menyalami siswa itu dengan mata berkaca-kaca.
Ia berkata, “Kamu telah menyelamatkan bukan hanya dompet saya, tapi juga rasa percaya saya kepada manusia.”
Anak-anakku, itulah kekuatan kejujuran.
Satu tindakan kecil bisa menumbuhkan rasa percaya yang besar.
Kejujuran itu memang kadang berat.
Kadang kita tergoda untuk mencontek sedikit saat ujian, atau berbohong kecil supaya tidak dimarahi. Tapi percayalah—setiap kebohongan yang kita buat, seperti menumpuk batu di dada sendiri. Semakin banyak kebohongan, semakin berat kita melangkah.
Sementara kejujuran, walau tampak sederhana, justru membuat langkah kita ringan.
Karena orang jujur tidak perlu berpura-pura.
Ia tenang, karena apa yang ia ucapkan sama dengan apa yang ia lakukan.
Ingatlah, anak-anakku, orang hebat bukanlah yang paling pintar atau paling kaya, tapi yang paling jujur.
Kejujuran adalah akar dari segala kebaikan.
Tanpa kejujuran, kepintaran bisa menipu, kekuasaan bisa menyakiti, dan prestasi bisa kehilangan makna.
Mulai hari ini, mari kita berani jujur—jujur pada orang lain, tapi lebih dari itu, jujur pada diri sendiri.
Kalau kita belum bisa, katakan “belum bisa.”
Kalau kita salah, katakan “saya salah.”
Dari situlah kedewasaan dan kehormatan tumbuh.
Anak-anakku, kejujuran adalah cahaya.
Semakin kita jujur, semakin terang jalan hidup kita.
Bangsa ini butuh generasi yang jujur—bukan hanya cerdas di kepala, tapi juga bersih di hati.
Mari mulai dari hal kecil:
jujur saat mengerjakan tugas, jujur saat berbicara pada guru dan orang tua, dan jujur pada niat kita setiap hari.
Karena seperti kata pepatah,
“Lebih baik kehilangan seribu rupiah karena jujur, daripada kehilangan kehormatan karena dusta.”
Semoga kita semua menjadi pribadi yang jujur, kuat, dan dipercaya—cermin bagi bangsa ini bahwa kejujuran masih hidup di sekolah kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Tidak ada komentar