Taman Cendekia – Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum besar untuk bercermin. Namun, di tengah gegap gempita teknologi digital, bangsa ini justru menghadapi persoalan serius. Krisis moral pelajar di era digital semakin terlihat nyata. Kita menyaksikan ujaran kebencian, perundungan daring, pornografi, hingga lunturnya sopan santun muncul dari generasi yang hidup bersama gawai sejak kecil.
Padahal, pelajar Indonesia dikenal ramah, santun, dan religius. Akan tetapi, derasnya arus digital perlahan mengubah banyak hal. Media sosial kini bukan sekadar ruang komunikasi. Sebaliknya, platform digital telah menjadi arena pembentukan karakter. Karena itu, Hari Lahir Pancasila tidak cukup diperingati melalui upacara dan slogan. Nilai Pancasila harus hadir dalam perilaku sehari-hari.
Menurut Kementerian Pendidikan, penguatan karakter menjadi kebutuhan mendesak di era digital. Pemerintah juga terus mendorong penguatan Profil Pelajar Pancasila agar peserta didik tidak hanya cerdas akademik, tetapi juga kuat secara moral.
Krisis moral pelajar di era digital bukan sekadar opini kosong. Banyak penelitian dan laporan pendidikan menunjukkan penurunan kualitas interaksi sosial generasi muda. Mereka semakin mudah marah, sulit fokus, dan haus validasi media sosial.
Bahkan, Kemendikdasmen pernah menyoroti ancaman “brain rot” akibat paparan video pendek berlebihan. Kondisi itu memicu kecanduan dopamin instan dan melemahkan daya pikir pelajar.
Selain itu, penelitian akademik dari Universitas Negeri Medan menegaskan bahwa akses digital tanpa kontrol dapat merusak karakter generasi muda. Karena itu, pendidikan moral berbasis nilai Pancasila perlu diperkuat melalui teknologi yang sehat dan mendidik.
Ironisnya, banyak pelajar kini lebih takut kehilangan akun media sosial dibanding kehilangan nilai kejujuran. Mereka cepat tersinggung, tetapi lambat meminta maaf. Mereka aktif membuat konten, tetapi pasif menghormati orang tua. Kondisi ini jelas bertentangan dengan sila pertama Pancasila.
Dalam perspektif religius, moral tidak mungkin berdiri tanpa ketuhanan. Ketika hubungan manusia dengan Tuhan melemah, maka kontrol diri ikut runtuh. Sebab itu, krisis moral pelajar hari ini sesungguhnya berakar dari krisis spiritual.
Hari Lahir Pancasila sering dipenuhi pidato normatif. Akan tetapi, bangsa ini membutuhkan tindakan nyata. Pelajar tidak cukup diajarkan menghafal lima sila. Mereka harus dibimbing mencintai nilai luhur di dalamnya.
Kemendikbud menegaskan bahwa pengamalan Pancasila bukan soal hafalan, melainkan praktik kehidupan sehari-hari. Karena itu, sekolah, keluarga, dan masyarakat wajib berjalan bersama.
Guru harus kembali menjadi teladan akhlak. Orang tua juga perlu hadir sebagai sahabat dialog anak. Sementara itu, pemerintah harus memperkuat literasi digital yang berlandaskan etika dan agama.
Di sisi lain, media sosial jangan hanya di pakai mencari hiburan. Platform digital harus menjadi sarana dakwah moral dan pendidikan karakter. Pelajar perlu di arahkan agar menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, dan membantu sesama.
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa harus kembali menjadi fondasi pendidikan nasional. Sebab, bangsa yang kehilangan rasa takut kepada Tuhan akan mudah kehilangan rasa malu. Ketika rasa malu hilang, maka perilaku menyimpang tumbuh tanpa batas.
Pancasila sejatinya lahir untuk menjaga martabat manusia Indonesia. Oleh sebab itu, Hari Lahir Pancasila 2026 harus menjadi momentum kebangkitan moral pelajar. Jika tidak, bangsa ini mungkin maju secara teknologi, tetapi runtuh secara akhlak.
Kita tentu tidak ingin melihat generasi yang pintar membuat konten, tetapi gagal menghormati guru. Kita juga tidak ingin melahirkan generasi digital yang cepat viral, tetapi miskin empati sosial.
Karena itu, peringatan Hari Lahir Pancasila harus di mulai dari rumah, sekolah, dan ruang digital. Pelajar Indonesia perlu di bimbing agar cerdas secara ilmu, matang secara emosional, dan kuat secara spiritual. Dengan begitu, Pancasila tidak hanya hidup dalam teks pidato, tetapi benar-benar hidup dalam hati generasi muda Indonesia.
Meta Deskripsi:
Tag:





Tidak ada komentar