Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah: Kesempatan Menghapus Dosa Menjelang Iduladha

3 menit membaca View : 5
Redaksi
religi - 24 Mei 2026

Taman Cendekia – Bulan Dzulhijjah selalu membawa suasana spiritual yang begitu kuat. Di antara hari-hari terbaik itu, umat Islam mengenal puasa Tarwiyah dan Arafah. Banyak orang mencari tentang keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah karena keduanya memiliki nilai ibadah yang sangat besar.

Selain menjadi amalan sunnah, puasa ini juga menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memanfaatkan momentum mulia ini dengan penuh keikhlasan.

Puasa Tarwiyah dan Kemuliaan Hari-Hari Dzulhijjah

Puasa Tarwiyah dilakukan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Sementara itu, puasa Arafah dikerjakan pada 9 Dzulhijjah. Kedua puasa ini berada dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang sangat dicintai Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini.”
(HR. Bukhari)

Karena itu, para sahabat sangat bersemangat memperbanyak ibadah pada hari-hari tersebut. Mereka memperkuat dzikir, sedekah, doa, dan puasa sunnah.

Selain menghadirkan pahala besar, puasa ini juga melatih hati menjadi lebih lembut. Jiwa yang sibuk dengan dunia akan kembali tenang ketika mendekat kepada Allah SWT.

Namun demikian, umat Islam perlu memahami satu hal penting. Hadis khusus tentang keutamaan puasa Tarwiyah masih diperselisihkan tingkat kesahihannya oleh para ulama. Meski begitu, puasa pada awal Dzulhijjah tetap dianjurkan berdasarkan dalil umum tentang keutamaan amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

Keutamaan Puasa Arafah yang Menggetarkan Hati

Di antara seluruh amalan sunnah Dzulhijjah, puasa Arafah memiliki keutamaan luar biasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi kabar gembira bagi setiap Muslim. Allah SWT membuka pintu ampunan begitu luas melalui ibadah yang ringan, tetapi penuh keberkahan.

Karena itu, banyak ulama menyebut puasa Arafah sebagai kesempatan emas membersihkan diri sebelum Iduladha. Selain menghapus dosa kecil, puasa ini juga menumbuhkan rasa tawaduk dan syukur.

Di sisi lain, hari Arafah merupakan waktu terbaik memperbanyak doa. Langit rahmat terbuka lebar. Hati yang tulus akan lebih mudah tersentuh oleh hidayah Allah SWT.

Bahkan, orang yang tidak sedang berhaji tetap dapat merasakan kemuliaan hari Arafah melalui puasa, doa, dan dzikir. Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh umat Nabi Muhammad SAW.

Menjadikan Puasa Sebagai Jalan Perbaikan Diri

Keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah bukan hanya tentang pahala. Lebih dari itu, ibadah ini mengajarkan keikhlasan dan pengendalian diri.

Saat seseorang menahan lapar karena Allah SWT, hatinya belajar bersabar. Selain itu, lisannya lebih terjaga. Perilakunya pun menjadi lebih baik.

Karena itu, puasa sunnah tidak boleh berhenti pada rasa haus dan lapar saja. Akhlak harus ikut berubah. Hati harus semakin dekat dengan Al-Qur’an. Hubungan dengan sesama juga perlu diperbaiki.

Menjelang Iduladha, puasa ini menjadi latihan spiritual agar manusia tidak hanya merayakan kurban secara lahiriah. Namun, ia juga belajar mengorbankan ego, kesombongan, dan dosa-dosa yang selama ini mengotori hati.

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah ini dengan penuh keimanan. Semoga setiap doa yang dipanjatkan pada hari-hari mulia tersebut menjadi sebab datangnya ampunan dan keberkahan hidup.

Sumber Referensi Terpercaya

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    CLOSE ADS